Profil Kesehatan
GAMBARAN UMUM
A. GEOGRAFI
Kota Bengkulu terletak ditepi Pantai Samudera Indonesia (Pantai Barat Pulau Sumatera) diantara 1020 º 14” – 1020º 22” Bujur Timur dan 30º45” – 30º59 “ Lintang Selatan dengan luas wilayah darat 151,7 Km² dan luas wilayah lautan 387,6 Km². Kota Bengkulu secara administrasi berbatas dengan :
- Sebelah Utara berbatas dengan Kabupaten Bengkulu Utara
- Sebelah Selatan berbatas dengan Kabupaten Seluma
- Sebelah Timur berbatas dengan Kabupaten Kepahyang
- Sebelah Barat berbatas dengan Samudera Indonesia
Kota Bengkulu terletak di ketinggian 0 – 16 meter dari permukaan laut dengan keadaan topografi 70 % datar dan 30 % berbukit dan rawa-rawa dengan suhu udara normal. Luas daerah Kota Bengkulu pada Tabel 1.
TABEL 1. LUAS KOTA BENGKULU MENURUT KECAMATAN
TAHUN 2007
NO
KECAMATAN LUAS DARATAN
(Km²) JUMLAH
KELURAHAN
1 Gading Cempaka 19,50 11
2 Ratu agung 12,04 8
3 Ratu Samban 28,45 9
4 Teluk Segara 10,45 13
5 Sungai Serut 13,53 7
6 Muara Bangkahulu 18,13 7
7 Selebar 30,14 6
8 Kampung Melayu 19,46 6
JUMLAH
151,7
67
B. KEPENDUDUKAN
1. JUMLAH DAN PERTUMBUHAN PENDUDUK.
Jumlah penduduk Kota Bengkulu berdasarkan Badan Pusat Statistik Kota Bengkulu tahun 2007 berjumlah 270.080 jiwa. Penduduk laki-laki berjumlah 133,550 jiwa dan penduduk perempuan berjumlah 136,53 jiwa.
Laju perumbuhan penduduk Propinsi Bengkulu pada periode 1990 - 2000 sebesar 5,30, Periode 2000-2005 sebesar 2,13 dan Periode 2005 – 2010 sebesar 1,99. Laju pertumbuhan penduduk ada perbedaan antara penduduk daerah perkotaan dan pedesaan.
Perbedaan laju pertumbuhan penduduk perkotaan dan pedesaan periode 2000 – 2005 sebesar 0,3116 dan periode tahun 1005 -2010 sebesar 0,2804. Laju pertumbuhan penduduk Kota Bengkulu pada Tabel.2
TABEL.2 LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK
PROVINSI DAN KOTA BENGKULU
PERIODE LAJU PERTUMBUHAN
PDDK PROVINSI LAJU PERTUMBUHAN
PDDK KOTA
1990 – 2000 5,30
2000 - 2005 2,13 2,44
2005 – 2010 1,99 2,27
Rata-rata pertumbuhan penduduk pertahun menunjukkan kecenderungan terus menurun. Turunnya laju pertumbuhan penduduk ini ditentukan oleh turunnya tingkat kelahiran dan kematian, namun penurunan karena kelahiran lebih cepat dari pada penurunan karena kematian.
2. KOMPOSISI PENDUDUK MENURUT KELOMPOK UMUR
Distribusi penduduk Kota Bengkulu tahun 2007 berdasarkan proyeksi tim propil dinas kesehatan Kota Bengkulu menurut kelompok umur adalah : berusia muda ( 0 – 14 Tahun ) berjumlah 97,257 jiwa (36,01%), Usia produktif (15 - 64 Tahun) berjumlah 166,763 jiwa ( 61,75 %) dan yang berusia 65 tahun keatas berjumlah 9,150 jiwa (3,39 %). Rincian penduduk menurut golongan umur dan jenis kelamin pada Tabel. 3
TABEL. 3 . JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN
DAN KELOMPOK UMUR
TAHUN 2007
NO KELOMPOK UMUR (TAHUN) JUMLAH PENDUDUK
LAKI-LAKI PEREMPUAN LAKI-LAKI + PEREMPUAN
1 2 3 4 5
1 0 – 4 21,208 21,631 42,839
2 5 – 9 13,242 12,055 25,297
3 10 – 14 13,561 15,560 29,121
4 15 – 19 15,410 15,790 31,200
5 20 – 24 16,105 16,590 32,695
6 25 – 29 10,465 10,506 20,971
7 30 – 34 9,030 10,110 19,140
8 35 – 39 8,750 9,350 18,100
9 40 – 44 8,651 8,930 17,581
10 45 – 49 6,094 5,657 11,751
11 50 – 54 5,328 4,697 10,025
12 55 – 59 1,360 850 2,210
13 60 – 64 960 2,130 3,090
14 65 + 3,400 2,660 6,060
JUMLAH KOTA
133,564
136,516
270,080
3. KOMPOSISI PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN (SEX RATIO)
Komposisi penduduk Kota Bengkulu menurut jenis kelamin secara umum menunjukkan bahwa penduduk perempuan lebih banyak dari pada penduduk laki-laki dengan ratio jenis kelamin (Sex Ratio) sebesar 97,8.
Rincian jumlah penduduk yaitu laki-laki berjumlah 133,564 jiwa (49,45 %) dan perempuan 136,516 jiwa. (50,55 %). Pada kelompok umur tertentu, penduduk laki-laki lebih banyak dari pada penduduk perempuan yaitu pada kelompok umur 45 – 60 tahun, Dengan rincian jumlah penduduk laki-laki 12,782 jiwa atau (4,73%) dan penduduk perempuan berjumlah 11,204 jiwa atau (4,15 %).
4. PERSEBARAN PENDUDUK MENURUT KECAMATAN
Persebaran Penduduk menurut kecamatan Di Kota Bengkulu tahun 2007 pada Tabel .4
TABEL.4 PERSEBARAN PENDUDUK MENURUT KECAMATAN
DI KOTA BENGKULU TAHUN 2007
No KECAMATAN LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH %
1 Gd. Cempaka 37,403 38,067 75,470 27,94
2 Ratu Agung 24,926 25,364 50,280 18,62
3 Ratu Samban 14,002 14,328 28,330 10,49
4 Teluk Segara 10,823 11,177 22,000 8,15
5 Sungai Serut 8,101 8,529 16,630 6,16
6 M. Bangkahulu 14,280 14,760 29,040 10,75
7 Selebar 14,405 14,655 29,040 10,76
8 Kp. Melayu 9,624 9,646 19,270 7,13
JUMLAH 133,564 136,516 270,080 100,00
Data di atas dapat diketahui yaitu persebaran penduduk di Kota Bengkulu tidak merata di setiap kecamatan. Kecamatan penduduknya yang paling banyak adalah Kecamatan Gading Cempaka sebanyak 75,470 jiwa (27,94 %) dan yang paling sedikit penduduknya adalah Kecamatan Sungai Serut berjumlah 16,630 Jiwa (6,16 %).
5. KEPADATAN PENDUDUK MENURUT KECAMATAN
Pada tahun 2007 ada perubahan luas wilayah Kota Bengkulu berdasarkan Data Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional. Pada tahun sebelumnya luas wilayah Kota Bengkulu hanya 144,52 Km², saat ini luas wilayah darat menjadi 151,7 Km².
Kepadatan penduduk Kota Bengkulu Tahun 2007 berdasarkan luas wilayah saat ini adalah 1,780/ Km² dan rata-rata rumah tangga 4,13 jiwa. Kecamatan terpadat berdasarkan luas wilayah adalah kecamatan Ratu Agung 4,176/ Km² dan kecamatan yang penduduknya kurang padat adalah Kecamatan Ratu Samban 996/Km². Kepadatan penduduk menurut kecamatan pada Tabel. 5
TABEL. 5 KEPADATAN PENDUDUK MENURUT KECAMATAN
TAHUN 2007
No KECAMATAN
RATA-RATA RUMAH TANGGA KEPADATAN PENDUDUK (Km²)
1 Gading Cempaka 4 3,870
2 Ratu Agung 4 4,176
3 Ratu Samban 5 996
4 Teluk Segara 4 2,105
5 Sungai Serut 4 1,229
6 Muara Bangkahulu 4 1,602
7 Selebar 5 964
8 Kampung Melayu 3 990
JUMLAH 4,13 1,780
6. TINGKAT PENDIDIKAN PENDUDUK
Kemampuan baca tulis tercermin dari angka melek hurup pada penduduk usia 10 tahun keatas. Melek hurup dimaksud adalah penduduk yang dapat membaca dan menulis huruf latin.
Di Kota Bengkulu masih ada penduduk usia 10 tahun keatas yang belum dapat membaca dan menulis (Buta Aksara). Jumlah penduduk usia 10 tahun keatas berjumlah 199,998 orang dan yang belum dapat membaca dan menulis sebanyak 2,608 orang (1,3%). Penduduk perempuan lebih banyak buta aksara 1,738 orang atau 66,64% dari pada penduduk laki-laki berjumlah 870 orang.atau 33,36 %.
Kondisi tingkat pendidikan ini merupakan salah satu faktor yang sangat mendukung untuk memecahkan permasalahan kesehatan yang ada saat ini, karena tingkat pendidikan yang tinggi cenderung untuk mendukung program kesehatan yang lebih baik. Tingkat pendidikan terbanyak yang ditamatkan oleh penduduk Kota Bengkulu adalah tamat SLTA/MA yaitu (33,18 %). Rincian tingkat pendidikan penduduk Kota Bengkulu tahun 2007 berdasarkan jenis kelamin pada Tabel 6.
TABEL 6. KEADAAN TINGKAT PENDIDIKAN PENDUDUK
MENURUT JENIS KELAMIN TAHUN 2007
NO
URAIAN
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
JUMLAH
1 2 3 4 5
1 Tidak / Blm Pernah Sekolah 870 1,738 2,608
2 Tidak / Belum Tamat SD 15,212 17,345 32,557
3 Tamat SD/MI 19,450 17,532 36,982
4 Tamat SLTP/MTS 16,448 20,562 37,008
5 Tamat SLTA/MAN 34,437 32,315 66,752
6 Tamat Akademi/Diploma 3,414 4,847 8,261
7 Tamat Perguruan Tinggi 9,082 6,746 15,828
Keadaan tingkat pendidikan penduduk usia 10 tahun keatas pada grafik dibawah ini :

Sumber : Susenas 2006, BPS Kota Bengkulu
C. PEMERINTAHAN DAN SOSIAL BUDAYA
1. PEMERINTAHAN.
Kota Bengkulu terdiri dari 8 wilayah kecamatan dan 67 kelurahan. Ada 16 Kelurahan (23,9 %) terletak didaerah pesisir pantai. Daerah ini mempunyai resiko yang besar terhadap bencana alam, berupa badai dan tsunami, sehingga daerah ini perlu disiapkan posko siaga bencana dan upaya- upaya peringatan dini terhadap bencana, khususnya bencana alam badai dan tsunami. Daerah- daerah pesisir pada Tabel. 7
TABEL. 7 DAERAH PESISIR PANTAI DIKOTA BENGKULU
TAHUN 2007
NO DAERAH PESISIR NO DAERAH PESISIR
1 Pasar Bengkulu 9 Malabero
2 Kampung Bali 10 Berkas
3 Kandang 11 Rawa Makmur
4 Padang Serai 12 Beringin Raya
5 Penurunan 13 Kandang Limun
6 Kuala Lempuing 14 Teluk Sepang
7 Anggut Bawah 15 Kampung Kelawi
8 Sumur Meleleh 16 Pondok Besi
Kelurahan rawan banjir yang perlu mendapat perhatian dan persiapan upaya penanggulangan bencana banjir adalah Kelurahan Tanjung Agung, Tanjung Jaya, Semarang, Rawa Makmur dan Kelurahan Teluk Sepang, Sehingga daerah ini perlu perencanaan yang matang tentang upaya-upaya penanggulangan banjir.
B. SOSIAL BUDAYA
Beban tanggungan ekonomi diukur dengan menggunakan indikator Dependency Ratio yaitu proporsi perbandingan penduduk usia produktif (15 – 64 Tahun ) dengan penduduk usia non produktif ( 0- 14 Tahun dan diatas 65 Tahun ).
Beban tanggungan ekonomi Kota Bengkulu tahun 2007 adalah 61,95 %. Berdasarkan angka beban ratio, hingga saat ini tetap menjadi tantangan yang berat bagi pemerintah Kota Bengkulu, karena beban tanggungan ekonomi masih relatif tinggi yaitu setiap 100 penduduk ada 62orang penduduk yang tidak produktif yang harus ditanggung
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
A. DERAJAT KESEHATAN
Derajat kesehatan dapat diukur melalui indikator- indikator mortalitas, morbiditas dan status gizi. Indikator mortalitas mencakup angka kematian bayi, Kematian balita, Angka kematian ibu melahirkan, Angka kecelakaan lalu lintas dan Angka harapan hidup waktu lahir.
Indikator morbiditas mencakup angka AFP, Angka kesembuhan penderita TB Paru BTA +, Persentase balita dengan pneumonia yang ditangani, Persentase HIV/AIDS yang ditangani, Persentase IMS yang diobati, Angka kesakitan demam berdarah (DBD). Persentase balita penderita diare ditangani, Angka kesakitan malaria dan persentase penderita kusta yang selesai berobat.
Indikator status gizi mencakup kunjungan neonatus, persentase kunjungan bayi, Persentase BBLR ditangani, Balita dengan gizi buruk dan kecamatan bebas rawan Gizi.
I. MORTALITAS
a. ANGKA KEMATIAN BAYI (IMR)
Indikator yang cukup sensitif untuk melihat keberhasilan pembangunan kesehatan adalah angka kematian bayi (AKB). Jumlah kematian bayi Di Kota Bengkulu Tahun 2007 terjadi kenaikan sebesar 74,41 % dibanding tahun 2006.
Pada tahun 2007 jumlah kematian bayi sebanyak 63 orang, dengan rincian lahir mati 20 orang dan kematian bayi 43 orang dari 6,677 kelahiran hidup, sedangkan pada tahun 2006 jumlah kematian bayi sebanyak 32 orang dengan rincian lahir mati sebanyak 9 orang dan kematian bayi sebanyak 23 orang orang dari 5.927 kelahiran hidup. Adapun penyebab kematian bayi < 1 minggu pada tahun 2007 adalah BBLR berjumlah 8 orang, Asfiksia 14 orang dan lain-lain 21 orang
Angka kematian bayi tahun 2007 sebesar 6,44 per 1000 kelahiran hidup, sedangkan pada tahun 2006 hanya 3,88 per 1000 kelahiran hidup Angka ini jauh dibawah angka kematian bayi secara nasional. Angka kematian bayi secara nasional tahun 2005 sebesar 32 per 1000 kelahiran hidup, namun data ini masih diragukan karena laporan kematian dari kelurahan tidak begitu lengkap, sehingga kemungkinan data belum mewakili keadaan yang sebenarnya .

b. ANGKA KEMATIAN ANAK (AKABA)
AKABA menggambarkan kondisi serta faktor yang mempengaruhi kesehatan anak seperti keadaan gizi, Penyakit menular, Pendidikan ibu, Pelayanan KIA/ posyandu dan faktor lingkungan.
Jumlah kematian balita Di Kota Bengkulu tahun 2007, sebanyak 8 orang dari 34,449 balita, (AKABA 1,20 per 1000 kelahiran hidup), Hal ini terjadi kenaikan dibanding tahun 2006. Jumlah kematian balita sebanyak 3 orang dari 39.509 balita. ( AKABA 0,51 per 1000 kelahiran hidup )
Data jumlah kematian balita ini masih diragukan karena laporan kematian dari kelurahan tidak begitu lengkap, sehingga kemungkinan data belum mewakili keadaan yang sebenarnya .
c. ANGKA KEMATIAN IBU MELAHIRKAN (MMR)
Angka kematian ibu melahirkan menggambarkan status gizi dan kesehatan ibu, kondisi lingkungan, sosial ekonomi, tingkat upaya pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, sewaktu melahirkan dan masa nifas
Jumlah kematian ibu melahirkan tahun 2007 berjumlah 7 orang (MMR. 104,52 per 100,000 Kelahiran hidup). Adapun penyebab kematian ibu adalah perdarahan 3 orang, Infeksi 1 orang, Eklamsi 2 orang dan lain-lain 1 orang. Angka ini menunjukkan kenaikan dari tahun sebelumnya, karena jumlah kematian ibu melahirkan di Kota Bengkulu tahun 2006 sebanyak 3 orang. ( MMR 50,62 per 100.000 kelahiran hidup ).
Angka kematian ibu karena melahirkan ini masih dibawah angka kematian secara nasional yang mencapai 262 per 100.000 kelahiran hidup, tetapi data ini masih diragukan karena sistem pendataan di Kota Bengkulu belum begitu sempurna.
d. KECELAKAAN LALU LINTAS
Permasalah kesehatan saat ini yang paling menonjol adalah karena penyakit menular yang disebabkan oleh lingkungan yang kurang sehat, serta perilaku yang tidak melaksanakan PHBS, seiring dengan kemajuan tehnologi dan informasi berdampak terhadap berubahnya gaya hidup seseorang.
Perubahan gaya hidup dan perilaku yang serba praktis, mendorong seseorang tidak mendukung cara hidup sehat, maka penyakit tidak menular mulai menjadi permasalahan saat ini.
Cedera atau kematian akibat kecelakaan lalu lintas adalah salah satu bagian dari penyakit tidak menular. Kasus ini menunjukkan peningkatan setiap tahunnya karena majunya sistem transportasi dan komunikasi.
Masalah cedera dan kematian akibat kecelakaan lalu lintas ini perlu menjadi perhatian serius oleh semua pihak, karena kasus kecelakaan lalu lintas paling banyak dialami oleh kelompok umur produktif, sehingga tidak dapat hidup produktif karena kecacatan.
Upaya pencegahan peningkatan kasus cedera dan kecacatan akibat kecelakaan lalu lintas perlu dilakukan sejak dini. Kerja sama antara pemerintah dan masyarakat dalam upaya pencegahan dan pengendalian kecelakaan merupakan suatu strategi yang harus dilaksanakan secepatnya dalam suatu kebijakan nasional. Kejadian kecelakaan lalu lintas berdasarkan jumlah pasien karena kasus kecelakaan lalu lintas di rumah sakit Di Kota Bengkulu pada Tabel. 8.
TABEL.8. DATA KECELAKAAN LALU LINTAS BERDASARKAN
RUMAH SAKIT DI KOTA BENGKULU
TAHUN 2007
SUMBER DATA
JUMLAH KORBAN
MATI % LUKA BERAT % LUKA RINGAN %
1. RSU.M YUNUS
2. RS. RAFLESIA
3. RS. TENTARA
4. RS. POLDA
5. RSJ DAN KO
104
11
0
37
0
3,47
0,41
0.00
6,86
0,00
2,164
499
167
197
0
72,21
18,58
57,00
36,55
0,00
729
2,176
126
305
4
24,32
81,01
43,00
56,59
100,00
JUMLAH
152
2,33
3,027
46,44
3,340
51,23
Kecelakaan lalu lintas banyak yang tidak dilaporkan pada pihak kepolisian, karena data kasus kecelakaan lalu lintas yang bersumber dari rumah sakit lebih banyak dari pada data kasus kecelakaan lalu lintas bersumber dari pihak kepolisian.
Data bersumber dari pihak kepolisian jumlah korban lakalantas hanya 104 orang, dengan rincian jumlah kasus kematian akibat kecelakaan berjumlah 55 orang, jumlah penderita luka berat 17 orang dan kasus luka ringan hanya 32 orang, sedangkan data korban lakalantas dari rumah sakit berjumlah 6,519 orang.
e. UMUR HARAPAN HIDUP
Umur harapan hidup dipakai sebagai salah satu indikator kesejahteraan rakyat. Umur harapan hidup penduduk Kota Bengkulu tahun 2005 adalah 69,7 tahun. Angka ini lebih tinggi dari umur harapan hidup Propinsi Bengkulu periode yang sama yaitu 68,9 tahun dan umur harapan hidup nasional yaitu 67,8 tahun. Indek pembangunan manusia (IPM) Kota Bengkulu mencapai 76,3. Perbandingan umur harapan hidup antara Kota, Propinsi dan Nasional pada Tabel. 9
TABEL.9. UMUR HARAPAN HIDUP PENDUDUK
NO
UMUR HARAPAN HIDUP
KOTA BENGKULU
PROPINSI BENGKULU
NASIONAL
1
69,7
68,9
67,8
PERBANDINGAN UMUR HARAPAN HIDUP ANTARA
KOTA BENGKULU, PROPINSI BENGKULU DAN NASIONAL
f. ANGKA KEMATIAN KASAR
Angka kematian kasar digunakan untuk membandingkan kondisi kesehatan suatu daerah atau negara. Angka ini dipengaruhi oleh berbagai karakteristik penduduk terutama struktur penduduk.
Jumlah seluruh kematian penduduk Kota Bengkulu berdasarkan SP2TP tahun 2007 berjumlah 390 orang (AKK 1,44 per 1000 Penduduk), Tahun 2006 berjumlah 406 orang. (AKK 1,48 per 1000 Penduduk) dan tahun tahun 2005 ( AKK 1,4 Per 1000 Penduduk ).
Dilihat dari angka kematian kasar dari tahun 2005 hingga tahun 2007 angka kematian kasar berkisar 1,4 per 1000 penduduk. Berdasarkan proyeksi penduduk 1990 -2000 oleh BPS didapat AKK Propinsi Bengkulu adalah 6,61 per 1000 penduduk dan AKK nasional 7,9 per 1000 penduduk. Berarti AKK Kota Bengkulu lebih rendah dari AKK Propinsi dan Nasional, data ini masih diragukan karena laporan kematian dari kelurahan tidak didapatkan.
II. MORBIDITAS
Angka kesakitan Di Kota Bengkulu saat ini terutama disebabkan oleh berbagai penyakit .Angka kesakitan lebih dominan disebabkan oleh penyakit infeksi atau penyakit menular, tetapi setiap tahun cenderung penyakit tidak menular (PTM) menunjukkan peningkatan, hal ini dapat disebabkan karena perubahan gaya hidup dan perubahan pola makan masyarakat.
Secara tidak disadari besaran masalah PTM sangat berdampak pada kehidupan manusia. PTM sangat perlu penanganan secara menyeluruh, meliputi penanganan faktor resiko, tata laksana penderita, rehabilitasi penderita dan pendidikan penderita.
Berdasarkan data WHO dan World Bank tahun 2005, Penyakit cardiovascular (Jantung) merupakan penyebab utama kematian di dunia dengan jumlah mortalitas 17.528.000,- disusul oleh cancer (Kanker) yaitu 7,586.000,-, chronic respiratory diseases (Pernapasan) yaitu 4.057.000,-, HIV/AIDS yaitu 2.830.000 dan diabetes melitus (DM) yaitu 1.125.000,-. 10 (Sepuluh) penyakit tidak menular (PTM) Di Kota Bengkulu tahun 2007 sebagai berikut :
1 Gastritis : 9.344
2 Kecelakaan Lalu Lintas : 6.519
3 Hypertensi : 5.714
4 Penyakit kulit Karena Alergi : 5.389
5 Radang Sendi Serupa Reumatik : 5.258
6 Kecelakaan Dan Ruda Paksa : 2.807
7 Karies Gigi : 2,210
8 Asma : 1.743
9 Penyakit Gangguan Mental : 593
10 Diabetes Mellitus : 553
Adapun 10 penyakit terbanyak berdasarkan data kesakitan puskesmas tahun 2007 pada Tabel. 10
TABEL. 10. SEPULUH PENYAKIT TERBANYAK DIKOTA BENGKULU
TAHUN 2007
NO
NAMA PENYAKIT
JUMLAH
1 Infeksi Akut Saluran Pernapasan Bagian Atas 55.841
2 Penyakit Pulpa & Jaringan Periapikal 10.107
3 Gastritis 9.344
4 Malaria Klinis 9.195
5 Diare (Termasuk Tersangka Kolera) 8.845
6 Penyakit Kulit Alergi 7.182
7 Malaria Dengan Pemeriksaan Laboratorium 6.390
8 Penyakit Kulit Infeksi 6.267
9 Darah Tinggi (Hypertensi) 5.714
10 Radang Sendi Serupa Rematik 5.258
Angka kesakitan (Morbiditas) sebagian besar disebabkan oleh penyakit-penyakit sebagai berikut :
a. Penyakit ” ACUTE FLACCID PARALYSIS” (AFP)/ POLIO
Penyakit polio adalah penyakit pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh satu dari tiga virus yang berhubungan, yaitu virus polio type 1,2 atau 3. Secara klinis penyakit polio adalah penyakit lumpuh layu akut (Acute Flaccid Paralysis ) yang menyerang anak dibawah umur 15 tahun
Penyebaran penyakit polio adalah melalui kotoran manusia (Tinja) yang terkontaminasi. Kelumpuhan dimulai dengan gejala demam, nyeri otot dan kelumpuhan terjadi pada minggu pertama sakit. Kematian bisa terjadi jika otot-otot pernapasan terinfeksi dan tidak segera ditangani.
Pada tahun 2007 kejadian kasus polio 1 orang di Puskesmas Padang Serai dengan angka kesakitan 1,01 per 100,000 penduduk dan kejadian kasus polio pada tahun 2006 juga 1 orang di Puskesmas Sukamerindu. Angka Kesakitan Polio 0,54 per 100.000 Penduduk, dari data ini kita dapat ketahui bahwa penduduk < 14 Tahun Kota Bengkulu belum sepenuhnya bebas dari penyakit polio.
b. TB Paru BTA +
TB atau yang lebih dikenal dengan TBC adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis. Kuman ini tidak hanya menyerang paru-paru, tapi juga organ tubuh lainnya seperti tulang, sendi, usus, kelenjar limpa, selaput otak dan lainnya. Penularan penyakit ini dapat terjadi melalui udara pada saat penderita TB yang belum berobat batuk atau bersin tanpa menutup mulutnya.
TB Paru merupakan penyakit yang memerlukan pengobatan dalam jangka panjang yaitu minimal 6 bulan masa pengobatan. Evaluasi kesembuhan TB Paru BTA + menggunakan data tahun sebelumnya dan tahun berjalan bagi penderita yang telah selesai menjalani pengobatan.
Penderita TB Paru klinis tahun 2007 berjumlah 2,698 orang, penderita TB Paru BTA + berjumlah 260 orang (9,65 % dari suspect yang diperiksa), BTA- Ro berjumlah 124 orang, Penderita ekstra paru berjumlah 11 orang dan jumlah penderita kambuh 3 orang. Kesembuhan mencapai 95,88 %.
Penderita TB Paru tahun 2006 adalah sebagai berikut : penderita TB paru klinis berjumlah 3,435. Penderita TB Paru BTA + baru berjumlah 242 orang ( 7,05 % dari suspect yang diperiksa), Jumlah penderita yang diobati 258 orang, Jumlah penderita sembuh 250 orang (96,90%) dan penderita tidak sembuh 3 orang (3,10%). Penderita TB Paru BTA+ tahun 2005 berjumlah 252 orang, Ekstra paru berjumlah 22 orang dan penderita kambuh berjumlah 9 orang.
Angka kesembuhan TB Paru + kota Bengkulu tahun 2007 telah mencapai target untuk Indikator Indonesia Sehat 2010 yaitu 85 % Angka Kesembuhan. walaupun angka ini telah memenuhi target untuk mencapai Indonesia Sehat 2010, namun Dinas Kesehatan Kota tetap melakukan hal-hal yang penting agar penderita yang sembuh tidak kambuh dan mengatasi agar yang belum sembuh tidak menularkan kepada orang lain, serta melakukan pencegahan sedini mungkin dalam upaya promotif.
c. PNEUMONIA
ISPA atau infeksi saluran pernapasan akut masih merupakan masalah kesehatan masyarakat Di Indonesia. Berdasarkan survei penyebab kematian balita tahun 2005 adalah sebagian besar kematian balita disebabkan karena pneumonia yaitu 23,6%.
Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Anak yang menderita pneumonia, kemampuan paru-paru untuk mengembang berkurang sehingga tubuh bereaksi dengan bernapas cepat agar tidak terjadi hipoksia (kekurangan oksigen). Anak dengan batuk atau sukar bernapas mungkin menderita pneumonia atau infeksi saluran pernapasan yang berat lainnya, akan tetapi sebagian besar anak batuk yang datang ke pasilitas kesehatan hanya menderita infeksi saluran pernapasan yang ringan.
Jumlah kasus pneumonia di dinas kesehatan ada 420 kasus dan sebagian besar dialami oleh balita berjumlah 347 orang (82,62%). Kasus pneumonia pada balita Di Kota Bengkulu tahun 2007 terbanyak di Puskesmas Sukamerindu berjumlah 206 orang atau 59,37 %.
Dibanding tahun 2006 terjadi kenaikan jumlah kasus pneumonia pada balita sebesar 23.26 %, karena jumlah kasus Pneumonia pada balita tahun 2006 ada 216 orang. Jumlah kasus terbanyak tetap terdapat di Puskesmas Sukamerindu yaitu 147 orang (68,06 %).
d. HIV/AIDS
Epidemiologi HIV/AIDS akan menimbulkan dampak buruk terhadap pembangunan nasional secara keseluruhan karena selain berpengaruh terhadap kesehatan juga terhadap sosio- ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan.
AIDS atau Acquired Immuno Deficiency Syndrom disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). HIV adalah virus RNA merupakan retrovirus yang terdiri dari sampul dan inti. Virus HIV terdiri dari 2 sub-type, yaitu HIV-1 dan HIV-2. Virus ini menyerang sel limposit-CD4 (Salah satu sel darah putih)
Di Indonesia banyak upaya yang telah dilaksanakan untuk penanggulangan HIV/AIDS, namun belum dapat menghambat laju penularannya ke masyarakat karena masyarakat yang berperilaku resiko tinggi terhadap penyakit HIV/AIDS sangat rendah kemauan dan tanggung jawabnya untuk mencegah penularannya, kemiskinan dan pengganguran yang meningkat tajam, beban biaya hidup yang semakin berat, konplik sosial dan lain sebagainya.
Kasus HIV/AIDS di Kota Bengkulu dari tahun 2005 – 2007 adalah sebagai berikut : a.)Tahun 2005 penderita HIV/AIDS berjumlah 5 orang b) Tahun 2006 berjumlah 48 orang c). Tahun 2007 berjumlah 25 orang, Terjadinya penurunan Jumlah kasus tahun ini, dikarenakan ada penderita yang pindah kedaerah lain dan meninggal dunia.
Penangganan penderita HIV/AIDS Di Kota Bengkulu dilakukan di klinik UC, Rumah sakit umum M. Yunus dan penangganan dilakukan di Lapas Propinsi Bengkulu. ODHA Di Kota Bengkulu lebih banyak laki-laki dari pada perempuan. Jumlah penderita HIV/AIDS laki-laki 15 orang dan penderita HIV/AIDS perempuan 10 orang.. Jumlah penderita HIV/AIDS ini masih diragukan, karena kasus penyakit ini bak gunung ES yang terdata hanya sedikit sedangkan penderita lain masih banyak, Apalagi setelah keluarnya Perda tentang penutupan lokasilasasi WTS di Kota Bengkulu, sehingga pemantauan kesehatan dilokalisasi tidak dilaksanakan lagi
Salah satu cara penularan HIV/AIDS adalah melalui darah namun transpusi darah melalui PMI cab Bengkulu hingga saat ini belum diskiring darah terhadap HIV/AIDS. Sehubungan dengan peningkatan penderita HIV/AIDS maka ditahun akan datang diharapkan PMI ada alokasi dana khusus skrining darah untuk pendonor. Pendonor tahun 2007 berjumlah 5,118 orang dan tahun 2006 berjumlah 5,716 orang.
e. IMS ( INFEKSI MENULAR SEKSUAL)
Penyakit kelamin merupakan penyakit menular yang biasa terjadi dikarena perilaku seseorang yang sering gontang ganti pasangan. Perilaku yang sering gonta ganti pasangan seksual selain dapat menimbulkan penyakit kelamin juga sangat rentan terhadap penularan penyakit HIV/AIDS.
Penyakit menular seksual merupakan salah satu faktor penyebab penyakit kecacatan pada anak dan menurunkan produktifitas kerja penderita, selain itu juga penyakit ini sulit untuk dilakukan pendataan karena penderita merasa malu untuk berobat.
Kasus IMS Di Kota Bengkulu tahun 2007 menunjukkan peningkatan jumlah kasus dari tahun sebelumnya. Jumlah kasus tahun ini berjumlah 40 orang sedangkan tahun 2006 ada 8 orang dan tahun 2005 hanya 6 orang penderita, Meningkatnya penderita IMS dimungkinkan karena sebagian besar penderita adalah masyarakat miskin yang tidak mempunyai kemampuan untuk membeli obat IMS dan melakukan hubungan seksual dengan kelompok risiko tidak menggunakan kondom.
f. DEMAM BERDARAH (DBD)
Penyakit demam berdarah merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat Di Indonesia. Jumlah kasusnya cenderung meningkat dan penyebarannya bertambah luas. Keadaan ini erat kaitannya dengan peningkatan mobilitas penduduk sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transportasi.
Demam berdarah adalah penyakit yang ditandai dengan: 1). Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus-menurus selama 2-7 hari. 2). Manispestasi perdarahan 3). Trombositopeni (jumlah trombosit ? 100.000 /µI 4).Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit ? 20 %) dan 5), disertai dengan atau tanpa pembesaran hati. Masa inkubasi penyakit demam berdarah 4-7 hari.
Penyakit demam berdarah disebabkan oleh Virus Dengue yang disebarkan oleh nyamuk Aides agipty meskipun dapat juga ditularkan oleh Aedes albopictus yang biasa hidup dikebun-kebun. Nyamuk Aides agipty biasanya hidup dilingkungan perumahan, sehingga angka kesakitan penyakit ini sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan dan perilaku masyarakat terutama di daerah perkotaan.
Kasus demam berdarah Di Kota Bengkulu dari tahun ketahun menunjukkan peningkatan jumlah kasus, hal ini dapat dilihat dari data sebagai berikut : Tahun 2007 jumlah penderita 170 orang, menyerang 40 kelurahan dan seluruh kecamatan yaitu 8 kecamatan (100 %). Jumlah kasus kematian karena demam berdarah ada 4 orang, dengan CFR (Case Fatality Rate) 2,35 % dan AR (Attack Rate) 0,6 %.
Tahun 2006 jumlah penderita demam berdarah yaitu 32 orang menyerang 22 kelurahan, 7 kecamatan (87,5%) dan tidak ada penderita yang meninggal. AR (Attack Rate) 0,02 % dan CFR 0,0 %. Pada tahun 2005 jumlah penderita 30 orang. Jumlah wilayah yang diserang meliputi 7 kecamatan dan 17 kelurahan, jumlah kematian 1 orang. Attack Rate 0,02 %. Case Fatality Rate 3,33 %
Angka kesakitan demam berdarah Kota Bengkulu tahun 2007 adalah 0,06. arget Indikator Indonesia sehat 2010 adalah 2 (Dua), walaupun angka kesakitan demam berdarah Di Kota Bengkulu memenuhi standart Indikator Indonesia Sehat 2010, tetapi melihat kondisi penyakit yang cenderung selalu meningkat mengharuskan untuk peningkatan kewaspadaan dini terhadap penyakit demam berdarah. Keadaan jumlah penderita kasus demam berdarah tahun 2005 –2007 sebagai berikut :

g. DIARE
Diare adalah penyakit yang dapat ditularkan melalui air dan makanan. Dikota Bengkulu penyakit diare dari tahun ke tahun masuk pada golongan 10 (Sepuluh) penyakit terbanyak. Penyakit ini belum menunjukkan kecenderungan menurun.
Pada tahun 2006 penderita penyakit diare berjumlah 7,125 orang (2,59 % per 1000 Penduduk). Tahun 2007 jumlah kasus diare 8,955 kasus (3,32 % per 1000 Penduduk). Seluruh penderita diare ditangani oleh tenaga kesehatan ( 100 %) .dari jumlah kasus diare yang ada 47,88% penderitanya adalah balita. Kejadian penyakit Diare tidak terlepas dari personal hiegene serta keadaan lingkungan tempat tinggal penderita.
h. MALARIA
Penyakit malaria adalah suatu penyakit menular, disebabkan oleh bibit penyakit malaria yaitu parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Kota Bengkulu merupakan daerah endemis malaria, Jumlah penderita malaria tahun 2006 sebanyak 8.397 orang, dengan rincian : penderita malaria klinis 6.103 orang dan malaria positif 2,294 orang. Tahun 2007 jumlah penderita malaria sebanyak 16,725 orang dengan rincian : malaria klinis 9,682 dan malaria positif 7,033 orang. Jumlah penderita ini menunjukkan kenaikan yang cukup tinggi yaitu 99 %
Angka kesakitan malaria untuk wilayah luar Jawa dan Bali diukur dengan Annual Malaria Incidence (AMI). Indikator ini menggambarkan semua kejadian malaria Klinis disuatu daerah. AMI kota Bengkulu tahun 2006 sebesar 30,56 per 1000 jumlah penduduk, tahun 2007 sebesar 35,89 per 1000 jumlah penduduk. Angka ini lebih tinggi dari Angka kesakitan propinsi dan nasional yaitu 16 per 1000 penduduk. target Indonesia Sehat 2010 sebesar 5 per 1000 penduduk.
Tingginya angka kesakitan malaria, tidak terlepas dari keadaan geografis Kota Bengkulu yang berawa-rawa dan daerah pinggir pantai. Tempat ini merupakan tempat perindukan nyamuk Annopeles penyebar penyakit malaria. Salah satu upaya yang telah dilakukan untuk menurunkan angka kesakitan malaria adalah pembagian kelambu gratis bagi keluarga yang memiliki anak balita dan ibu hamil, Peningkatan PSN dan penyuluhan kesehatan khususnya penyakit malaria.
i. KUSTA
Penyakit kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman kusta, Penyakit ini menular, bersifat menahun yang menyerang kulit dan syaraf tepi. Cara penularan penyakit ini yaitu dengan kontak langsung yang erat dan lama dengan penderita kusta.
Penderita penyakit kusta yang ada di Kota Bengkulu tahun 2007 berjumlah 1 (Satu) orang terdapat di Puskesmas Kuala Lempuing. Angka kesakitan kusta 0,36 per 100.000 jumlah penduduk dan penderita ini telah selesai melakukan pengobatan.
III. STATUS GIZI.
Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia, Kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan, meningkatkan angka kesakitan dan kematian terutama pada bayi, anak balita dan ibu hamil, menurunkan produktifitas dan menurunkan daya tahan tubuh. Dampak tersebut merupakan salah satu akibat langsung maupun akibat tidak langsung dari status gizi.
a. Kunjungan Neonatus
Kunjungan bayi umur 0 – 7 hari untuk mendapatkan pelayanan kesehatan tahun 2006 mencapai 72,02 % dan tahun 2007 mencapai 78,94 %. Cakupan kunjungan neonatus tertinggi tahun 2007 di Puskesmas Ratu Agung yaitu 93,20% sedangkan cakupan tertinggi tahun 2006 di Puskesmas Basuki Rahmat yaitu 92,41 %
Cakupan terendah tahun 2007 di Puskesmas Kandang yaitu 48,18 %. Tahun 2006 cakupan terendah di Puskesmas Jalan Gedang yaitu 47,01 %, rendahnya cakupan ini dimungkinkan karena masyarakat mendapatkan pelayanan neonatus tidak di puskesmas tetapi ke tempat praktek swasta.
b. Kunjungan Bayi
Jumlah bayi yang berkunjung kesarana kesehatan dan mendapatkan pelayanan kesehatan tahun 2007 sebanyak 7,370 orang (87,84%), angka ini menunjukkan peningkatan jumlah kunjungan bayi sebesar 2,02 % di banding tahun 2006 yaitu jumlah seluruh kunjungan bayi sebanyak 6,434 orang (85,82 %). Salah satu pelayanan yang diberikan saat kunjungan bayi kesarana kesehatan untuk pencegahan penyakit yaitu imunisasi dan penimbangan bayi.
c Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat melahirkan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) yaitu bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram. Bayi yang mempunyai berat badan lahir rendah sangat mempengaruhi pertumbuhan dan kecerdasan anak. Anak BBLR cenderung mempunyai pertumbuhan fisik yang terhambat dan mudah terserang penyakit. Di Indonesia BBLR merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi angka kematian bayi.
Kasus BBLR tahun 2007 sebanyak 25 orang yang ditangani sebanyak 16 orang (64 %), kasus ini sama dengan kasus BBLR tahun 2006 sebanyak 25 orang , yang ditangani sebanyak 21 orang ( 84 %), sedangkan pada tahun 2005 ada 33 kasus BBLR.
Persentase BBLR Kota Bengkulu tahun 2007 adalah 0,37 % sedangkan tahun 2006 adalah 0,42 %, jadi tahun 2007 terjadi penurunan kasus BBLR sebesar 0,05. Kasus BBLR ini masih tergolong rendah jika dilihat dari angka nasional yaitu 14 %.
d. Balita Dengan Gizi Buruk
Gambaran status gizi masyarakat dapat diketahui dengan menggunakan beberapa indikator antara lain balita gizi buruk, deteksi tumbuh kembang dan bumil yang mendapat Fe. Balita gizi buruk yang ada Di Kota Bengkulu tahun 2007 sebanyak 120 orang. Kasus ini terjadi peningkatan dibanding tahun 2006 yaitu sebanyak 70 orang. Kasus gizi buruk tersebar diseluruh kecamatan di Kota Bengkulu.
Kekurangan energi protein (KEP) dilihat dari status gizi berdasarkan hasil yang dilaksanakan dengan pemantauan status gizi (PSG) di Posyandu. Pelaksanaan PSG dilakukan oleh petugas puskesmas sehingga dapat mencerminkan status gizi di wilayah puskesmas.
Hasil SKPG (Sistem Kewaspadaan Pangan Dan Gizi) didapatkan status gizi anak balita pada Tabel. 11
TABEL.11 . STATUS GIZI ANAK BALITA BERDASARKAN BB/UMUR
TAHUN 2007
TAHUN
GIZI LEBIH
GIZI BAIK
GIZI KURANG
GIZI BURUK
2002 2,66 91,15 5,86 0,33
2003 0,18 65,05 0,53 0,10
2004 4,59 90,94 3,38 1,09
2005 2,63 87,13 9,75 2,00
2006 4,00 85,30 8,60 2,00
2007 1,64 87,26 10,18 0,92
Data diatas tidak mencakup semua balita yang dipantau status gizinya, karena masih banyak anak balita yang tidak ditimbang di posyandu, sehingga masih perlu adanya penyuluhan dan motivasi terhadap masyarakat agar lebih berperan aktif dalam posyandu dan mengerti akan manfaatnya.
e. Penimbangan Anak Balita
Kegiatan penimbangan balita dilaksanakan diseluruh puskesmas dan posyandu Di Kota Bengkulu. Jumlah anak balita ada 42,839 orang. Jumlah yang ditimbang 18,400 orang (42,95 %), Balita ditimbang yang berat badannya naik 14,963 orang (81,32 %) dan Jumlah balita BGM sebanyak 658 orang (3,58 %)
Kegiatan penimbangan pada anak balita meliputi : Liputan program (K/S), partisipasi masyarakat (D/S), Keberhasilan program (N/S), Kesinambungan/Kelangsungan penimbangan (D/K), Keberhasilan penimbangan (N/D). hasil kegiatan pada tahun 2007 sebagai berikut :
- Liputan Program (K/S) adalah kunjungan balita ke Posyandu atau balita yang mendapat KMS di Posyandu termasuk kontak pertama ke Posyandu, persentase pencapaian kegiatan sebesar 95,48 %. Liputan gizi tertinggi terdapat di 4 (Empat) Puskesmas yaitu Lingkar Barat, Padang Serai, Basuki Rahmat dan Betungan (100%) dan K/S terendah di Puskesmas Sukamerindu (76,85%) hal ini disebabkan kurangnya sistem Pencatatan balita yang mempunyai KMS.
- Partisipasi Masyarakat (D/S) adalah partisipasi masyarakat merupakan perbandingan jumlah balita yang ditimbang dengan jumlah sasaran. Persentase ini untuk melihat aspek penggerakan masyarakat dalam kelanjutan penimbangan. Persentase D/S sebesar 42.95 %. Partisipasi masyarakat tertinggi di Puskesmas Sawah Lebar (83,60 %) dan terendah di Puskesmas Kandang (19,40 %). Kecenderungan partisipasi masyarakat terhadap pelayanan kesehatan menurun, karena sebagian besar balita yang datang ke Posyandu hanya balita yang akan di imunisasi, sedangkan balita yang sudah lengkap imunisasi tidak lagi datang ke Posyandu.
- Keberhasilan Program (N/S) adalah menggambarkan kenaikan berat badan balita. Persentase kegiatan N/S sebesar 34,93 %
- Kesinambungan/ Kelangsungan Penimbangan (D/K). Persentase kegiatan sebesar 44,99 %
- Keberhasilan Penimbangan (N/D). Persentase sebesar 81,32 %
f. Persentase Kecamatan Rawan Gizi
Kecamatan rawan gizi adalah di wilayah kecamatan tersebut masih terdapat balita gizi buruk. Di kota Bengkulu seluruh kecamatan termasuk katagori kecamatan rawan gizi (100,00 %), karena kecamatan bebas rawan gizi adalah kecamatan dengan prevalensi gizi kurang dan gizi buruk pada balita adalah < 15 %, sedangkan prevalensi gizi kurang dan gizi buruk di wilayah kecamatan di Kota Bengkulu > 15 %.
Pencapaian target di Kota Bengkulu masih tergolong rendah bila dibandingkan dengan Target Indonesia Sehat 2010 yaitu 80 % Kecamatan bebas rawan gizi, sedangkan seluruh kecamatan di Kota Bengkulu (100%) merupakan daerah bebas rawan pangan.
Salah satu upaya untuk menanggulangi kasus gizi buruk pada bayi keluarga miskin dilakukan pemberian makanan pendamping (MP). Jumlah bayi keluarga miskin yang mendapat makanan pendamping yaitu 536 orang

